• (Pergaulan bebas dikalangan remaja)

    Jangan mudah terpengaruh oleh era globalisasi masa kini,karena di era globalisasi saat ini banyak segi negatif yang tidak patut untuk ditiru dikalangan remaja generasi bangsa

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 27 Desember 2017

Positif dan Negatifnya Anak Geng Motor

🚯🚯Dizaman globalisasi ini banyak sekali orang-orang yang bingung untuk mencapai cita-citanya di masa yang akan datang, karena masa perekonomiannya semakin rumit. Bekerja untuk mencari pekerjaan semakin susah untuk sekolah pun dipersulit.

Gambar terkait
🚸🚸Jadi banyak orang-orang yang gampang mengambil jalan pintas, Menurut Dia itu gampang menghasilkan. Dampak Negatif seperti Contohnya; Anak Geng  Motor tanpa bekerja keras mereka dapat menghasilkan uang yang banyak dengan cara Merampas, Merampok, Membegal.menimbulkan tindakan kekerasan jika mereka tidak dapat mengontrol emosi dalam suatu masalah, bahkan di antara mereka ada yang merasa paling hebat apabila mereka menyelesaikan suatu masalah dan tidak memilik rasa kerja sama sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara geng motor itu sendiri
πŸš”πŸš”Dilihat dari sisi Positifnya Anak Geng Motor bagi para pelajar tersebut dapat berbagi ilmu dan pengalaman khususnya terkait bidang otomotif .Hal ini jelas dapat menjadi satu wadah belajar secara berkelompok  yang cukup efektif dan menyenangkan karena belajar secara praktik biasanya lebih berhasil . Bagi Anak Geng Motor di kalangan pelajar maupun dewasa dapat menolong sesama dan bisa membantu orang-orang yang sedang dalam kesulitan, Seperti yang dapat saya ambil kisah Nyata dari sahabat saya bernama:  “RAFAEL” Dia yang baru lulus sekolah, Dia bingung bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan, tapi sampai deti kini pun dia belum dapat perkerjaan.
Dan teman – teman mengajak dia untuk berkumpul, nongkrong bareng dari teman satu keteman yang lain dan aksi-aksi yang menantang bahaya pada malam menjelang dini hari di jalan raya. 
🚍🚍Akhirnya terbentuknya genk nama genk nya yaitu Genk Motor yang setiap malam dihabiskan dijalan untuk Taruhan, untuk minum-minuman keras, untuk balapan liar dijalan, ngerampas dijalan, tapi dari situ si Rafael mengambil dari sisi Positifnya.
🚦🚦Dia anak Genk motor yang bukan BRUTAL, Dia mengambil pelajaran dari genk  motor, banyak masyarakat yang bilang kalau anak genk motor itu adalah anak yang Bengal, anak yang tidak bisa disiplin pada peraturan,tidak bisa kompak  karena masalah  cewek,masalah  rumor  yang tidak bena rmembuat masalah menjadi besar dan sulit untuk di selesaikan secara damai.Malah meresahkan masyarakat dan ujung-ujungnya pasti akan membuat masa depan mereka menjadi suram.
Gambar terkait
🚴🚴Tapi si Rafael ini mencerminkan anak genk  motor yang tahu tata tertib, tahu aturan dimana, Dia harus membantu orang tuanya, dimana dia bisa membantu keluarganya, dimana dia saat bersama dengan teman-teman genknya dia selalu memberi nasehat keteman-temannya bahwa kalau  Genk  motor itu tidak selalu harus berbuat anarkis, dari situ dia memberikan contoh yang baik kepada teman-temannya, seperti sholat /beribadah tepat waktu, rajin membaca kitab suci, ikut dalam organisasi karang taruna dll, yg bersifat positif.


Rafael yang biasa teman-temanya yaitu brutal dijalan, trek-trekan  motor dijalan, merampas dan merampok milik orang lain dijalan.
🚳🚳Dengan adanya dia, dia memberikan hal yang positif kepada teman-teman genknya, dia membantu orang yang sulit meyebrang seperti kakek-kakek dari panti jompo, orang tuna netra, anak kecil yang tidak bisa menyebrang. dimana orang tua yang membutuhkan bantuannya, Dia selalu membantunya, jadi intinya  anak  Genk  motor itu tidak semuanya memiliki sifat yang buruk dan ada yang memiliki sifat yang baik ,seperti Rafael dan anak-anak motor lainnya yang suka melakukan ha-hal yang positif dan berguna untuk orang lain.
https://www.kompasiana.com/angelia17/kisah-positif-dan-negatifnya-anak-geng-motor_567a7c0a62afbd6a0ad37709
Share:

Dampak Negatif Dari Pergaulan Bebas

Istilah pergaulan bebas di Indonesia mulai banyak digunakan sejak pertengahan tahun 60-an. Pada masa itu, era globalisasi menjadikan budaya barat dapat dengan mudah masuk ke Indonesia. Terutama informasi dari dunia hiburan, seperti film dan musik, yang disebarkan melalui media cetak dan elektronik.

Konsumsi informasi oleh masyarakat tersebut telah memberikan dampak positif dan negatif. Dampak negatif terjadi karena remaja Indonesia tidak mampu menyaring deretan informasi yang mereka terima. Mereka menelannya secara mentah-mentah, tanpa mempedulikan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Jika hal tersebut dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan semakin jauh tertinggal. Karena remaja sebagai generasi penerus bangsa terjebak dalam pergaulan negatif yang dapat menghancurkan masa depannya.

Berikut ini adalah beberapa contoh nyata dampak buruk dari pergaulan bebas bagi remaja:

  1. Ancaman Kesehatan
  2. Hamil Sebelum Waktunya
  3. Prestasi Belajar Buruk
  4. Buruk dimata masyarakat
  5. Tersandung masalah hukum

Cara Menghindari Pergaulan Bebas


Sungguh besar dampak negatif dari pergaulan bebas pada pelajar dan remaja menjadi satu keresahan tersendiri bagi orangtu dan sekolah, pergaulan bebas telah sangat berpengaruh terhadap prestasi pelajar. Oleh karena itu tindakan perlindungan dari sekolah dan orang tua harus dilakukan. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk oleh orang tua dan sekolah adalah sebagai berikut:

  • Penanaman nilai-nilai agama yang kuat terhadap didalam lingkungan keluarga sangat efektif untuk menangkis pengaruh negative dalam bentuk apapun.
  • Penggeledahan dan razia pada ponsel siswa, secara rutin oleh pihak sekolah untuk tindakan preventif.
  • Sekolah mengarahkan siswa untuk melakukan lebih banyak kegiatan positif dengan lebih banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, seperti: Paskib, Pramuka, robotic, MIPA, olahraga, dan lain-lain
  • Orangtua lebih banyak memberi perhatian terhadap anak, melalui arahan dan dukungan untuk berpretasi, dalam berbagai bidang seperti, musik, olahraga, otomotif, elektronik dan berbagai prestasi lain.
Share:

Sikap dan Perilaku Remaja di Era Globalisasi

Akhir-akhir ini, perilaku seseorang di era globalisasi mulai berubah. Hal itu pun berlaku dengan sikap dan perilaku seorang remaja. Sebelum kita membahas tentang sikap dan perilaku remaja, mari kita ulas terlebih dahulu apa itu Globalisasi.
Globalisasi adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Namun, globalisasi ini memiliki dampak positif dan juga dampak negatif .
Beberapa dampak positif dari globalisasi khususnya untuk para remaja antara lain :
  1. Kemudahan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi.
  2. Komunikasi lebih mudah dilakukan
  3. Cepat dalam bepergian ( mobilitas tinggi )
  4. Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
Namun, globalisasi ini pun membawa dampak negatif pula bagi remaja, seperti :
  1. Informasi yang tidak tersaring
  2. Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
  3. Pemborosan pengeluaran (berperilaku konsumtif) dan meniru perilaku yang kurang baik untuk dilakukan.
  4. Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat (hal-hal negatif)
Dampak negatif dari globalisasi ini sendiri menjadi persoalan yang sedang kita hadapi di zaman modern ini. Dengan banyaknya teknologi dan hal-hal baru yang dibawa di dalam era globalisasi ini membawa para remaja-remaja kita kehilangan identitasnya sebagai remaja indonesia.
Sikap-sikap yang bersifat negatif sering kita lihat di banyak media massa maupun kejadian yang kita lihat langsung. Salah satu contoh yaitu kerusuhan yang dilakukan oleh para siswa-siswa SMK yang biasa terjadi di Kota Jakarta.
Salah satu faktor yang membawa pengaruh terhadap sikap remaja masa kini yaitu pengaruh orang lain. Pengaruh orang lain ini biasanya adalah seseorang yang terkenal atau seseorang yang penting. Salah satu contohnya yaitu seorang artis yang biasa tampil di televisi.
Apabila seseorang tersebut mencontohkan sikap positif dalam hidupnya, maka hal tersebut adalah hal yang baik dan positif. Namun, permasalahan yang ada sekarang yaitu banyaknya artis yang mengajarkan dan mencontohkan hal-hal yang kurang baik.
Salah satu contoh yang bisa kita lihat yaitu banyaknya kasus-kasus narkoba yang dilakukan oleh artis-artis papan atas seperti Raffi Ahmad, Tessy Srimulat, dan artis lainnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut secara tidak langsung ditiru oleh remaja yang rasa penasarannya sangat besar.
Faktor media massa seperti TV dan Radio pun menjadi penyumbang terbesar yang membawa pengaruh terhadap sikap remaja masa kini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar tayangan televisi yang ada di Indonesia mempunyai kualitas yang kurang baik, bahkan buruk.
Media adalah wadah yang menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Media pun seringkali berperan dalam mengembangkan kebudayaan, juga tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
Ada baiknya kita sebagai remaja dan masyarakat harus bisa memilah mana informasi yang harus diserap mana yang harus dibuang. Di era informasi ini, sangat penting bagi kita untuk mengendalikan diri kita sendiri, agar sikap dan perilaku kita tetap positif dan baik untuk masyarakat. Jangan sampai kita terbawa-bawa oleh hal-hal negatif yang dibawa oleh media maupun orang lain.

https://galihpratama.net/sikap-dan-perilaku-remaja-di-era-globalisasi/
Share:

Fenomena Seks Bebas di Kalangan Remaja

🚫 Bicara soal remaja tidak akan pernah lepas dari percintaan remaja. Tentu semua remaja telah mengalaminya .Hampir seluruh remaja di Dunia termasuk Indonesia mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan remaja itu sendiri yang biasa kita sebut sebagai “Pacaran”. 

Gambar terkait




  1. Perlunya kerja sama antara orang tua dengan pihak sekolah mengenai pendidikan moral anak mereka. Hal ini tentunya akan membuat pihak sekolah lebih ketat dalam urusan moral para siswa nya.
  2. Keaktifan dari para guru BP/BK/P2S untuk mencegah dan mengajarkan moral dan etika kepada para siswa nya dan memberi peringatan yang keras kepada mereka agar tidak mengulangi nya lagi.
  3. Perlu adanya kedekatan para orangtua dengan anak-anak mereka sehingga terjalin suatu hubungan yang baik di mana anak-anak mereka dapat menuruti nasihat serta perintah dan jujur dengan orangtua mereka sendiri.
  4. Perlunya pengawasan atas media yang di tonton oleh para orangtua terhadap anak mereka. Hal ini sangat penting karena media saat ini merupakan acuan para remaja (anak-anak mereka) dalam mencari trend.
  5. Untuk para remaja, kalian harus lebih selektif dalam mencari kelompok bermain yang baik. Bukan berarti hal ini akan membuat pergaulan kalian menjadi kaku, namun hal ini dapat membuat kalian jauh dari pergaulan yang salah. Ekspresi kan kecintaan kalian dengan sang ‘pacar’ dalam hal yang positif. Bisa dalam bentuk inspirasi dalam membuat novel atau cerpen dan lagu. Hal ini akan membuat kalian lebih produktif dan itu tentu bermanfaat bagi kekreatifan kalian.
Share:

TAWURAN ANTAR PELAJAR MASALAH DAN PENYEBABNYA

Hasil gambar untuk perkelahian antar pelajar

     Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar seolah sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi ditelinga kita. Inilah beberapa contoh yang bisa kita kemukakan sebagai bukti terjadinya tawuran yang dilakukan oleh para remaja beberapa tahun lalu. Dalam hal tawuran, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tingkat tawuran antar pelajar sudah mencapai ambang yang cukup memprihatinkan. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat, dalam satu hari di Jakarta terdapat sampai tiga kasus perkelahian di tiga tempat sekaligus

     Kalau kita baca uraian diatas jelas sangat tidak sinkron antara tujuan UU no.20 tahun 2003 tetang system pendidikan dengan kenyataan yang ada dilapangan, bahkan jauh sebelum UU no. 20 tahun 2003 lahir, tauran pelajar sudah terjadi,, pertanyaannya adalah apakah dengan lahirnya UU no. 20 tahun  2003 bisa mengatasi tauran pelajar ? atau mungkin ada masalah lain ?.
Bagaimana mengatasi tauran yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta ?  langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan  agar tauran bisa   diatasi


1.      1. Pengertian Tawuran
Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
a. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
b. Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para  remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.
2. Teori Belajar social
Teori belajar sosial lebih memperhatikan faktor tarikan dari luar. Bandura (dalam
Sarwono, 2002) mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari- hari pun perilaku agresif
dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa.

3 . Teori Kualitas Lingkungan
Strategi yang dipilih seseorang untuk stimulus mana yang diprioritaskan atau
diabaikan pada suatu waktu tertentu akan menentukan reaksi positif atau negatif terhadap lingkungan. Berikutnya adalah teori Kualitas Lingkungan yang salah satunya meliputi kualitas fisik (ambient condition). Berbicara mengenai kualitas fisik (ambient condition), Rahardjani dan Ancok (dalam Prabowo, 1998) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna. Menurut Ancok (dalam Prabowo, 1998), keadaan bising dan temperatur yang tinggi akan mempengaruhi emosi para penghuni. Sedangkan menurut Holahan (dalam Prabowo, 1998) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efef yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
 
Tawuran pelajar merupakan salah satu bentuk perilaku negatif yang sangat marak terjadi dikota -kota besar, misalnya Jakarta. Permasalahan remeh dapat menyulut pertengkaran individual yang berlanjut menjadi perkelaian masal dan tak jarang melibatkan penggunaan senjata tajam atau bahkan senjata api. Banyak korban yang berjatuhan, baik karena luka ringan, luka berat, bakan tidak jarang terjadi kematian. Tawuran ini juga membawa dendam berkepanjangan bagi para pelaku yang terlibat didalamnya dan sering berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Hal ini tentunya merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Generasi yang diharapkan mampu membawa perubahan bangsa kearah yang lebih baik ternyata jauh dari harapan. Kondisi ini juga dapat membawa dampak buruk bagi masa depan bangsa. Lickona menyebutkan beberapa tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa antara lain meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, pengaruh kelompok sebaya terhadap tindakan kekerasan, dan semakin kaburnya pedoman moral.
1.    Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a.       Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya. Di antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikuti perkembangan zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Dalam studinya tentang kekerasan, Foucault, seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa kekerasan adalah buah dari simbolisasi perlawanan akan bentukan emosi yang menekan manusia secara eksistensial. Disisi yang lain, Eric Fromm menyatakan bahwa kekerasan adalah wujud dari ketakutan dan keterancaman. Dari dua teori diatas, kita tentu memahami mengapa pelajar melakukan kekerasan. Sebagai manusia remaja, pelajar, dalam pengalaman keseharian mereka, merasakan bentukan hegemoni dari orang yang lebih dewasa (orang tua, guru dan sekolah itu sendiri) melalui aturan normative yang membelit kebebasan mereka. Mereka lebih sering dituntut untuk memahami segala bentuk tatanan yang sifatnya baru bagi mereka daripada diberikan kebebasan untuk berpikir kritis atas tatanan-tatanan tersebut. Mereka merasakan sebuah keterancaman eksistensial dimana keberadaan mereka tidak terlalu diakui sebagai selayaknya manusia yang setara. Mereka adalah gudang kesalahan yang setiap hari selalu diposisikan sebagai sosok yang tidak pernah benar di mata orang dewasa.
Mereka berkelompok karena mereka merasakan sebuah perasaan senasib. Perasaan senasib tersebut menimbulkan sebuah solidaritas masal yang sifatnya fanatis dan simbolik. Mereka yang tidak bisa memenuhi tuntutan solidaritas tidak akan terekrut dalam kelompok-kelompok yang ada. Disinilah mereka harus menunjukan jati diri eksistensi mereka. Minuman keras, narkoba, dan perkelahian bukan sekedar eksperimentasi mereka sebagai remaja melainkan juga menjadi semacam metode simbolik untuk bisa diterima oleh kelompok-kelompok yang ada. Tanpa kelompok-kelompok itu, mereka akan mengalami perasaan kesepian yang mendalam karena teralienasi baik oleh kelompok manusia dewasa maupun seusia mereka.Hasil gambar untuk perkelahian antar pelajar
b.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :
1.      Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan  yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
 Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu   penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.
2.      Faktor Sekolah
      Dalam beberapa diskusi atau tulisan yang dimuat di media masa, beberapa ahli atau penggiat pendidikan sering mengopinikan adanya kebutuhan akan kegiatan-kegiatan positif yang mampu mewadahi kreativitas dan dinamisasi kehidupan remaja dalam rangka mengurangi angka terjadinya tawuran antar siswa baik di tingkat SMP atau SMU. Kegiatan-kegiatan positif bisa dibentukan dalam aktivitas persahabatan antar sekolah yang lebih menitikberatkan kepada persoalan-persoalan ilmiah. Dari kegiatan tersebut akan muncul sebuah keakraban universal diantara mereka para pelajar.
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan  para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya  disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.
          Menjadi guru lebih mudah ketimbang menjadi sahabat mereka. Pelajar membutuhkan perasaan diterima dan diakui sebagai manusia yang berkedudukan setara dengan siapapun juga. Mereka muak untuk dipaksa memahami tanpa memiliki kesempatan untuk dipahami. Perilaku mereka adalah sebuah kompensasi atas perasaan teralienasi dalam dunia belajar mengajar. Satu satu solusi jangka panjang yang mungkin dilakukan adalah merubah paradigma guru. Guru sebaiknya memahami mereka sebagai remaja yang lahir dari kultur keluarga, masyarakat dan pribadi yang berbeda. Kultur remaja memiliki belief dan values sendiri yang tidak bisa ditekan untuk menerima kultur dewasa yang universal. Menekan mereka hanya akan membentuk bangunan hegemoni kepada mereka yang terkompensasi dalam perilaku destruktif mereka sebagai sebuah simbol perlawanan eksistensial demi mendapatkan pengakuan
3.        Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selama puluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta”, tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan mereka (Kompas, 26/11).
2.      Hal yang menjadi pemicu tawuran
Fenomena tawuran yang terjadi di Indonesia beberapa pekan terakhir membuka mata kita kembali akan maraknya kekerasan dalam pergaulan sosial remaja pelajar Indonesia yang lama sempat tengelam ditengah hiruk pikuk carut marut pendidikan nasional. Bila dicermati, respon masyarakat awam maupun kalangan pendidikan terhadap fenomena tawuran selalu saja mengkambinghitamkan problem-problem sosial di luar sekolah yang mempengaruhi pembentukan perilaku negatif pelajar. Disinilah letak penyimpangan intepretasi sosial yang terkadang mewujud kepada penanganan yang selama ini terbukti tidak efektif mengurangi angka kejadian tawuran pelajar di Indonesia. Seorang Psikolog tersohor, Maslow, mengkategorikan beberapa motif perilaku kepada bangunan piramida motivasi manusia. Dalam teori motivasinya, Maslow menyebutkan bahwa salah satu motivasi tindakan manusia adalah untuk memperoleh pengakuan eksistensial dari sesamanya. Disinilah titik penting yang sering terlepas dari kesadaran kritis kita dalam menyoroti fenomena tawuran antar pelajar selama ini.
Pelajar adalah manusia yang hidup dalam situasi transisi antara dunia anak menuju dewasa. Disinilah ruang dimana seorang manusia remaja mulai menyadari kebutuhan-kebutuhan sosialnya untuk diterima sekaligus diakui oleh komunitas masyarakat disekitarnya. Ruang baru yang mereka huni tersebut terkadang menuntut hadirnya kultur solidaritas yang dalam beberapa kasus, bukan tidak mungkin, menyimpang menjadi sebuah sikap fanatisme dan vandalisme. Inilah mengapa kemunculan fenomena tawuran selalu diwarnai dengan kehadiran kelompok-kelompok vandalistik (baca: gank) yang biasanya mengundang perasaan-perasaan fanatisme berlebih dari setiap anggotanya.
Banyak sekali alasan yang bisa menjadikan tawuran antar-pelajar terjadi. Pelajar sering kali tawuran hanya karena masalah sepele, seperti saling ejek, berpapasan di bus, pentas seni, atau pertandingan sepak bola. Bahkan, yang baru terjadi awal bulan ini, tawuran dipicu saling ejek di Facebook, yang kemudian sampai menyebabkan nyawa seorang pelajar melayang. Padahal, jejaring sosial, kan, hanya untuk having fun, bukan untuk menjadi pemicu tawuran.
Tak jarang disebabkan oleh hanya saling menatap antar sesama pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya. Selain alasan-alasan yang spontan, ada juga tawuran antar-pelajar yang sudah menjadi tradisi.
       Dari jajak pendapat Kompas pada bulan Oktober, dengan responden di 12 kota di Indonesia, diketahui sebanyak 17,5 persen responden mengakui bahwa saat dia bersekolah SMA, sekolahnya pernah terlibat tawuran antar-pelajar. Tidak sedikit pula responden atau keluarga responden yang mengaku pada masa bersekolah terlibat tawuran atau perkelahian massal pelajar. Jumlahnya mencapai 6,6 persen atau sekitar 29 responden.
Di antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikuti perkembangan zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selama puluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta”, tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan mereka (Kompas, 26/11).
3.      Dampak karena tawuran pelajar
a.   Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu     cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian
b.  Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
    c.  Terganggunya proses belajar mengajar
    d.  Menurunnya moralitas para pelajar
    e.  Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai
4.      Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar
Untuk menghilangkan tawuran antar-pelajar yang sudah mengakar, tentu dibutuhkan usaha keras. Banyak usulan yang dilontarkan untuk mengurangi tawuran antar-pelajar. Beberapa di antaranya memindahkan sekolah, memotong generasi di sekolah, atau memotong mata rantai tradisi tawuran.
Salah satu upaya mengurangi tawuran yang juga pernah dilakukan adalah memindahkan letak sekolah karena diduga lingkungan sekolah yang terlalu ramai di tengah kota mengakibatkan tekanan mental lebih berat bagi siswa. Pada periode 1980-an, SMA 7 Gambir, Jakarta, terlibat konflik dengan STM Boedi Oetomo Pejambon. Kemudian, pada awal tahun 1990-an, SMA 7 dipindahkan ke wilayah Karet Pejompongan untuk memutus tawuran dengan STM Boedi Oetomo.
Ketua KPAI Maria Ulfah Anshor mengungkapkan, tradisi tawuran bisa diputus dengan menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak di rumah. ”Keluarga mempunyai peranan penting untuk menanamkan nilai menghargai perbedaan, yang nyata dalam kehidupan dan tidak bisa dihindari. Nah, bagaimana menghargai perbedaan itu menjadi sesuatu yang positif,” kata Maria Ulfah.
Untuk itulah, ketika melakukan mediasi antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta, KPAI juga mengundang pihak orangtua. ”Sistem pendidikan kita seharusnya juga ikut mendukung itu. Dulu ada pelajaran budi pekerti, tetapi kurikulum menghilangkannya dengan alasan sudah terintegrasi dengan pelajaran lain. Padahal, kenyataannya, nilai-nilai dari budi pekerti itu memang tidak diajarkan, hilang begitu saja,” ujarnya.
Maria Ulfah juga mengusulkan memotong mata rantai pemicu tawuran. Terkadang kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab tawuran, yang kemudian mengakar sampai ke generasi berikutnya. Nah, kata Maria Ulfah, mengapa tidak mengubah paradigma tawuran, permusuhan antar-pelajar tak perlu disikapi dengan perlawanan.
”Harus diputus tradisi senior yang memanas-manasi yuniornya supaya terlibat tawuran. Ada baiknya pula menghidupkan kembali pertandingan persahabatan antarsekolah. Kalau zaman dulu pertandingan olahraga bisa mempererat hubungan antarpelajar, kenapa sekarang tidak?” ungkapnya. Harapan KPAI tentu menjadi harapan kita semua.(suSIE berindra)
Cara mengatasi tauran, sekolah juga bisa melakukan dengan cara:
    a.  Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
 b. Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti   hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
c.   Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari  jati diri
d.  Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah  untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat  diwaktu luangnya. Contohnya  : membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya.
 e. Bahkan antara   tahun 2002 sampai tahun 2005 tauran mulai berkurang karena pada saat itu Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberikan instruksi kepada seluruh sekolah khususnya SLTA  agar  tiap-tiap sekolah siswanya mengikuti kegiatan kesiswaan dengan system mentoring.
Kartini kartono pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja, diantaranya :
1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
2.   Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang   baik dan sehat
3.    Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan    remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remajaHasil gambar untuk damai
http://den-haryprasetyo.blogspot.co.id/2013/11/tawuran-antar-pelajar-masalah-dan_7044.html
Share:

Jumat, 01 Desember 2017

karakter anak muda zaman sekarang

Fenomena anak muda atau remaja zaman sekarang menunjukkan potret kehidupan mereka kini. Munculnya para anak muda kontroversial yang justru jadi panutan generasi muda salah satunya. Mulai dari cara berbicara sampai penampilan yang dirasa jauh berbeda dengan anak muda zaman dulu. Tak heran jika akhirnya banyak gaya anak muda yang jadi bahan perbincangan masyarakat.
Nah, fenomena ini dikemas dengan lebih menarik melalui serangkaian gambar oleh seorang ilustrator dan diunggah secara teratur di media sosial. Lewat sebuah akun dengan nama @kekomukan, seorang pelajar perempuan berusia 15 tahun membuat ilustrasi yang menceritakan fenomena anak muda zaman sekarang.

1. Tipe penampilan cewek kekinian.


2. Banyak cowok yang mulai suka dandan



3. Anaknya pas dikasi unjuk foto orang tuanya bilang "RELATIONSHIP GOALS"



4. Anak kebawa zaman,




5.gaya foto anak zaman kekinian



6. Biar terkenal pokoknya. 



7. Cabe-cabean.


8. Saat celana sobek-sobek jadi tren.



9. Katanya sih pelajar.



10. Kalian semua suci aku penuh dosa.



11. Cabe-cabean lagi.



12. Gaya anak zaman sekarang.



13. Girls be like.



14. Relationship goals, katanya.



15. Hijaber kekinian.

 

https://www.brilio.net/kepribadian/15-ilustrasi-karakter-anak-muda-zaman-sekarang-dilihat-dari-penampilan-1611047.html#
Share:

Geng motor

 Hasil gambar untuk artikel perilaku menyimpang geng motor
πŸ’¦πŸ’¦Geng motor adalah kumpulan orang-orang pecinta motor yang gemar kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai. Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Club Motor biasanya mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter(kelompok pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok SuzukiTigerMio. Ada jugaBrotherhood kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal aksi jalanan, semuanya sama saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh pengendara lain.
Sekarang geng-geng motor sudah berada dalam taraf berbahaya, tak segan mereka tawuran dan tak merasa berdosa para geng tersebut membunuh. Perbedaan mencolok dari geng motor dan club motor adalah :
1.      Kebanyakan anggota geng motor tidak memakai perangkat safety seperti helm, sepatu dan jaket.
2.      Membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau sudah dari pabriknya seperti samurai, badik hingga bom Molotov.
3.      Biasanya hanya muncul pada malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta berisik.
4.      Jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara membunuh masal.
5.      Anggotanya lebih banyak kepada kaum lelaki yang sangar, tukang mabok, penjudi dan hobi membunuh, sekalipuntidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut dan wanita yang mengikuti geng motor biasanya hanya dijadikan budak nafsu lelaki masal.
6.      Motor yang mereka gunakan tidak memiliki spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting untuk mereka adalah kencang dan mampu melibas orang yang lewat.
7.      Visi dan misi mereka jelas, hanya membuat kekacauan dan ingin menjadi geng terseram diantara geng motor lainnya hingga sering terjadi tawuran diatas motor.
8.      Tidak terdaftar di kepolisian atau masyarakat setempat.
9.      Kalau nongkrong, lebih suka ditempat yang jauh dari kata terang. Lebih memilih tempat sepi, gelap dan berbau busuk.
1       Kalau pelantikan anak baru biasanya bermain fisik, diperintah untuk berkelahi dan minum minuman keras samapi muntah.
Namun sekarang perlu diwaspadai karena ada geng motor yang berkedok club motor. Berpakaian rapi, safety dan penuh perlengkapan berkendaraan namun arogan, anarkis dan egois kalau dijalan serta tak segan mereka membuat rusuh bila merasa diganggu. Selama AD/ART mereka jelas dan terdaftar dipihak kepolisian, club motor tidak bakal berubah menjadi geng motor.



πŸ’€πŸ’€    Faktor Penyebab Remaja Terlibat dalam Geng Motor
Tentunya sangat banyak faktor penyebab remaja terjerumus ke dalam kawanan geng motor. Namun, salah satu penyebab utama mengapa remaja memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu sibuknya kedua orang tua mereka dengan pekerjaan, sehingga perhatian dan kasih sayang kepada anaknya hanya diekspresikan dalam bentuk materi saja. Padahal materi tidak dapat mengganti dahaga mereka akan kasih sayang dan perhatian orang tua.
Hasil gambar untuk artikel perilaku menyimpang geng motorPada dasarnya setiap orang menginginkan pengakuan, perhatian, pujian, dan kasih sayang dari lingkungannya, khususnya dari orang tua atau keluarganya, karena secara alamiah orang tua dan keluarga memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Pada saat pengakuan, perhatian, dan kasih sayang tersebut tidak mereka dapatkan di rumah, maka mereka akan mencarinya di tempat lain. Salah satu tempat yang paling mudah mereka temukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut adalah di lingkungan teman sebayanya. Sayangnya, kegiatan-kegiatan negatif kerap menjadi pilihan anak-anak broken home tersebut sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan eksistensinya.
Faktor lain yang juga ikut berperan menjadi alasan mengapa remaja saat ini memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya sarana atau media bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif.
Remaja pada umumnya, lebih suka memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang legal sangat jarang digelar.Padahal, ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain dapat memotivasi untuk berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena sarana aktualisasi diri yang positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka melampiaskannya dengan aksi ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi mencelakakan dirinya dan orang lain                   .  

Hasil gambar untuk artikel perilaku menyimpang geng motor


3.3     πŸ’§πŸ’§ Terbentuknya Geng Motor
Mulanya kumpul-kumpul sesama pecinta motor, kemudian berubah jadi geng yang beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang. Di jalanan, mereka membentuk gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman demi menancapkan identitas kelompok. Ngetrack, kebut-kebutan, dan tawuran adalah upaya dalam pencarian identitas mereka.Selama ini banyak anggota geng motor itu dari kalangan anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menggunakan berbagai jenis motor. Mereka berkeliaran di malam hari sekitar pukul 23.00 sampai 03.00, dan melakukan berbagai keonaran, penganiayaan dan kejahatan lainnya, bahkan sampai membunuh.
Geng motor merupakan wadah yang mampu memberikan gejala watak keberingasan anak muda. Perkembangannya, tak lepas dari trend mode yang sedang berlangsung saat itu.Aksi brutal itu perlu diredam.Mulanya berbuat jahat dari yang ringan seperti bolos sekolah, lama-lama mencuri, merampok dan membunuh. Lumrahnya jika sudah berani jahat ada indikasi mereka mengkonsumsi narkoba.
Begitu pun membenci dan melawan orang tua.Mereka sadar karena masih sekolah sumber keuangan ada di orang tua.Oleh karenanya, jika orang tua tak memberi uang cukup, mereka terpaksa membenci dan mengancam orangtuanya sendiri. Sedang aksi kejahatan berupa perampasan dan perampokan, merupakan jalan lain untuk mendapatkan penghasilan.
Salah satu sebab kebrutalan adalah selain dekat dengan minuman keras, anggota geng motor juga akrab dengan obat-obatatan terlarang. Bahkan, ada satu geng motor yang ketua dan anggotanya merupakan pengedar dan pengguna obat-obatan.
Mereka ingin diakui keberadaannya.Tapi ada juga yang asal mulanya hanya karena senang kebut-kebutan.Penyebab tawuran antar geng motor meliputi banyak hal yang bisa menjadi pemicunya. Mulai dari masalah rebutan wanita, daerah kekuasaan, hingga wilayah pemasaran obat-obatan. Seperti disebutkan tadi, tidak sedikit anggota geng motor yang terlibat dalam perdagangan narkoba.
Banyak anggota geng motor yang tak begitu takut dengan aparat. Sebab tak sedikit pula anggota geng motor yang punya beking kuat di polisi sendiri. Jumlah anggota geng di Indonesia kini semakin banyak. Sebab jumlah motor semakin banyak serta kian teraturnya organisasi geng motor. Di tiap wilayah mereka selalu mempunyai pemimpin. Kalau motor hilang dirampas geng musuh atau polisi, mereka tidakakan rugi. Karena rata-rata mereka memiliki motor itu dari hasil menjambret atau meminjam motor, Anggota geng sebagian besar adalah remaja tanggung atau masih duduk di bangku SMU. Mereka belum mempunyai penghasilan sendiri.Karena itulah mereka sering melakukan kejahatan agar bisa membeli obat-obatan tersebut.

3.4   πŸ™ˆπŸ™ˆ  Senjata yang Digunakan dalam Aksi Kejahatan Geng Motor
Untuk mendukung aksi geng motor, Samurai, jenis golok berukuran panjang yang biasa digunakan oleh kelompok Ninja di Jepang, menjadi senjata khas mereka.Tidak hanya saat tawuran, senjata ini biasa dipamerkan pada saat konvoi. Samurai dilepas dan ujung runcingnya digesekkan ke jalanan hingga memercikan cahaya api.

Senjata lainnya yang biasa digunakan yakni golok, stik soft ball, bom molotof bahkan senjata api jenis pistol. Tidak tahu pasti siapa yang menggunakan senjata api, namun dari penuturan sebagian anggota geng, semuanya pernah melihat teman satu gengnya menggenggam pistol atau malahan diancam dengan pistol.

3.5   πŸ’£πŸ’£Permasalahan yang Ditimbulkan oleh Geng Motor
Tindakan yang dilakukan geng motor belakangan ini kian meresahkan warga. Geng motor kini memang menjadi salah satu perhatian utama pihak berwenang karena tindakan mereka kian berani. Selain meminta korban sesama anggota geng, tindakan mereka juga mengambil korban masyarakat biasa.Tak salah jika masyarakat menyebut geng-geng motor tersebut tidak berbeda dengan perampok atau pencuri.Tindak kejahatan yang dilakukan sebagian besar perampasan barang berharga milik korban, seperti uang, HP, dompet, hingga motor.
Dalam aksinya, mereka tak segan-segan menganiaya korban. Jika geng motor tersebut tidak diantispasi sejak dini, dikhawatirkan kelompok-kelompok tersebut bisa kian besar menjadi sebuah jaringan kriminal terorganisisasi. Indikasi itu mulai muncul dengan tindak penganiayaan yang dilakukan oleh anggota geng motor akir-akir ini. Kalau geng motor brutal itu tidak segera dibubarkan maka akan sangat membahayakan karena terdapat solidaritas sempit yang telah didoktrinkan kepada setiap anggota geng motor tersebut, sehingga mengarah pada tindakan kriminal.


3.6     πŸ’«πŸ’«  Tanggapan Masyarakat Terhadap Aksi Kebrutalan Geng Motor
Keberadaan Geng Motor yang sudah mengganggu ketentraman masyarakat yang juga sering terlibat tindak pidana kriminal agar segera dibubarkan dan ditumpas. Terkait masalah Geng Motor yang sudah meresahkan masyarakat itu, Menteri Pemuda dan Olahraga meminta pihak yang berwenang agar menumpas dan membubarkan Geng Motor. Para pelaku kejahatan yang berhimpun dalam Geng tersebut, harus ditindak sesuai hukum.Sedangkan bagi anggota yang tidak terlibat pelanggaran hukum, perlu segera disadarkan dan ditangani secara persuasif.

Gejala sosial ini tidak boleh dibiarkan.Harus ditangani secara simultan, antara penyadaran secara persuasif dan tindakan hukum. Jika dibiarkan, dikhawatirkan akansemakin meresahkan masyarakat. Karena dalam praktek perekrutannya ada semacam baiat bagi anggota baru dan ancaman hukuman.Seperti dipotong anggota badannya, bagi anggota yang keluar dan buka mulut kepada orang tua atau kepada pihak berwajib.
3.7    🚲🚲 Upaya yang Dilakukan UntukMemerangi Teror Geng Motor
Salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan mereka secara efektif adalah peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua mereka sendiri. Solusi ini akan lebih efektif, mengingat penyebab utama mereka memilih geng motor sebagai bagian kehidupannya adalah karena mereka merasa jauh dari kasih sayang orang tua. Dalam memberikan terapi kepada anaknya yang sudah terlanjur terlibat anggota geng motor, orang tua bisa bekerja sama dengan psikolog yang mereka percayai. Sehingga secara pasikologis sedikit demi sedikit anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orang tua.
Sebagai upaya preventif terhadap peningkatan jumlah anggota geng motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini. terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang harus dipatuhi.
Selain itu pihak polisi juga melakukan razia motor-motor yang tidak memiliki surat-surat dan tas-tas sekolah yang dicurigai membawa senjata tajam ke seluruh sekolah, dengan dibantu para guru dan kepala sekolah.
Tembak mati atau tembak melumpuhkan, merupakan stimulus jitu untuk memberikan efek jera pada meraka.Namun, aksi polisi mengarah kepenembakan itu belum bias terlaksana. Geng motor yang diproses di pengadilan tak akan memberikan efek jera. Ketika pelaku divonis bebas, rekan-rekannya menyambut dan mengelu-elukan. Jika anggota geng motor ditangkap dan diadili maka anggota itu menjadi pahlawan. 

http://delavonka.blogspot.co.id/2014/11/masalah-sosial-geng-motor.html

Share:

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Diberdayakan oleh Blogger.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Blog Archive

jam

jauhi narkoba

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.