
Rabu, 27 Desember 2017
Positif dan Negatifnya Anak Geng Motor
π―π―Dizaman globalisasi ini banyak sekali orang-orang yang bingung untuk mencapai cita-citanya di masa yang akan datang, karena masa perekonomiannya semakin rumit. Bekerja untuk mencari pekerjaan semakin susah untuk sekolah pun dipersulit.
πΈπΈJadi banyak orang-orang yang gampang mengambil jalan pintas, Menurut Dia itu gampang menghasilkan. Dampak Negatif seperti Contohnya; Anak Geng Motor tanpa bekerja keras mereka dapat menghasilkan uang yang banyak dengan cara Merampas, Merampok, Membegal.menimbulkan tindakan kekerasan jika mereka tidak dapat mengontrol emosi dalam suatu masalah, bahkan di antara mereka ada yang merasa paling hebat apabila mereka menyelesaikan suatu masalah dan tidak memilik rasa kerja sama sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara geng motor itu sendiri
ππDilihat dari sisi Positifnya Anak Geng Motor bagi para pelajar tersebut dapat berbagi ilmu dan pengalaman khususnya terkait bidang otomotif .Hal ini jelas dapat menjadi satu wadah belajar secara berkelompok yang cukup efektif dan menyenangkan karena belajar secara praktik biasanya lebih berhasil . Bagi Anak Geng Motor di kalangan pelajar maupun dewasa dapat menolong sesama dan bisa membantu orang-orang yang sedang dalam kesulitan, Seperti yang dapat saya ambil kisah Nyata dari sahabat saya bernama: “RAFAEL” Dia yang baru lulus sekolah, Dia bingung bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan, tapi sampai deti kini pun dia belum dapat perkerjaan.
Dan teman – teman mengajak dia untuk berkumpul, nongkrong bareng dari teman satu keteman yang lain dan aksi-aksi yang menantang bahaya pada malam menjelang dini hari di jalan raya.
ππAkhirnya terbentuknya genk nama genk nya yaitu Genk Motor yang setiap malam dihabiskan dijalan untuk Taruhan, untuk minum-minuman keras, untuk balapan liar dijalan, ngerampas dijalan, tapi dari situ si Rafael mengambil dari sisi Positifnya.
π¦π¦Dia anak Genk motor yang bukan BRUTAL, Dia mengambil pelajaran dari genk motor, banyak masyarakat yang bilang kalau anak genk motor itu adalah anak yang Bengal, anak yang tidak bisa disiplin pada peraturan,tidak bisa kompak karena masalah cewek,masalah rumor yang tidak bena rmembuat masalah menjadi besar dan sulit untuk di selesaikan secara damai.Malah meresahkan masyarakat dan ujung-ujungnya pasti akan membuat masa depan mereka menjadi suram.

Rafael yang biasa teman-temanya yaitu brutal dijalan, trek-trekan motor dijalan, merampas dan merampok milik orang lain dijalan.
π³π³Dengan adanya dia, dia memberikan hal yang positif kepada teman-teman genknya, dia membantu orang yang sulit meyebrang seperti kakek-kakek dari panti jompo, orang tuna netra, anak kecil yang tidak bisa menyebrang. dimana orang tua yang membutuhkan bantuannya, Dia selalu membantunya, jadi intinya anak Genk motor itu tidak semuanya memiliki sifat yang buruk dan ada yang memiliki sifat yang baik ,seperti Rafael dan anak-anak motor lainnya yang suka melakukan ha-hal yang positif dan berguna untuk orang lain.
https://www.kompasiana.com/angelia17/kisah-positif-dan-negatifnya-anak-geng-motor_567a7c0a62afbd6a0ad37709
Dampak Negatif Dari Pergaulan Bebas
Istilah pergaulan bebas di Indonesia mulai banyak digunakan sejak pertengahan tahun 60-an. Pada masa itu, era globalisasi menjadikan budaya barat dapat dengan mudah masuk ke Indonesia. Terutama informasi dari dunia hiburan, seperti film dan musik, yang disebarkan melalui media cetak dan elektronik.
Konsumsi informasi oleh masyarakat tersebut telah memberikan dampak positif dan negatif. Dampak negatif terjadi karena remaja Indonesia tidak mampu menyaring deretan informasi yang mereka terima. Mereka menelannya secara mentah-mentah, tanpa mempedulikan norma sosial yang berlaku di masyarakat.
Jika hal tersebut dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan semakin jauh tertinggal. Karena remaja sebagai generasi penerus bangsa terjebak dalam pergaulan negatif yang dapat menghancurkan masa depannya.
Berikut ini adalah beberapa contoh nyata dampak buruk dari pergaulan bebas bagi remaja:
Sungguh besar dampak negatif dari pergaulan bebas pada pelajar dan remaja menjadi satu keresahan tersendiri bagi orangtu dan sekolah, pergaulan bebas telah sangat berpengaruh terhadap prestasi pelajar. Oleh karena itu tindakan perlindungan dari sekolah dan orang tua harus dilakukan. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk oleh orang tua dan sekolah adalah sebagai berikut:
Konsumsi informasi oleh masyarakat tersebut telah memberikan dampak positif dan negatif. Dampak negatif terjadi karena remaja Indonesia tidak mampu menyaring deretan informasi yang mereka terima. Mereka menelannya secara mentah-mentah, tanpa mempedulikan norma sosial yang berlaku di masyarakat.
Jika hal tersebut dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan semakin jauh tertinggal. Karena remaja sebagai generasi penerus bangsa terjebak dalam pergaulan negatif yang dapat menghancurkan masa depannya.
Berikut ini adalah beberapa contoh nyata dampak buruk dari pergaulan bebas bagi remaja:
- Ancaman Kesehatan
- Hamil Sebelum Waktunya
- Prestasi Belajar Buruk
- Buruk dimata masyarakat
- Tersandung masalah hukum
Cara Menghindari Pergaulan Bebas
Sungguh besar dampak negatif dari pergaulan bebas pada pelajar dan remaja menjadi satu keresahan tersendiri bagi orangtu dan sekolah, pergaulan bebas telah sangat berpengaruh terhadap prestasi pelajar. Oleh karena itu tindakan perlindungan dari sekolah dan orang tua harus dilakukan. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk oleh orang tua dan sekolah adalah sebagai berikut:
- Penanaman nilai-nilai agama yang kuat terhadap didalam lingkungan keluarga sangat efektif untuk menangkis pengaruh negative dalam bentuk apapun.
- Penggeledahan dan razia pada ponsel siswa, secara rutin oleh pihak sekolah untuk tindakan preventif.
- Sekolah mengarahkan siswa untuk melakukan lebih banyak kegiatan positif dengan lebih banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, seperti: Paskib, Pramuka, robotic, MIPA, olahraga, dan lain-lain
- Orangtua lebih banyak memberi perhatian terhadap anak, melalui arahan dan dukungan untuk berpretasi, dalam berbagai bidang seperti, musik, olahraga, otomotif, elektronik dan berbagai prestasi lain.
Sikap dan Perilaku Remaja di Era Globalisasi
Akhir-akhir ini, perilaku seseorang di era globalisasi mulai berubah. Hal itu pun berlaku dengan sikap dan perilaku seorang remaja. Sebelum kita membahas tentang sikap dan perilaku remaja, mari kita ulas terlebih dahulu apa itu Globalisasi.
Globalisasi adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Namun, globalisasi ini memiliki dampak positif dan juga dampak negatif .
Beberapa dampak positif dari globalisasi khususnya untuk para remaja antara lain :
- Kemudahan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi.
- Komunikasi lebih mudah dilakukan
- Cepat dalam bepergian ( mobilitas tinggi )
- Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
Namun, globalisasi ini pun membawa dampak negatif pula bagi remaja, seperti :
- Informasi yang tidak tersaring
- Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
- Pemborosan pengeluaran (berperilaku konsumtif) dan meniru perilaku yang kurang baik untuk dilakukan.
- Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat (hal-hal negatif)
Dampak negatif dari globalisasi ini sendiri menjadi persoalan yang sedang kita hadapi di zaman modern ini. Dengan banyaknya teknologi dan hal-hal baru yang dibawa di dalam era globalisasi ini membawa para remaja-remaja kita kehilangan identitasnya sebagai remaja indonesia.
Sikap-sikap yang bersifat negatif sering kita lihat di banyak media massa maupun kejadian yang kita lihat langsung. Salah satu contoh yaitu kerusuhan yang dilakukan oleh para siswa-siswa SMK yang biasa terjadi di Kota Jakarta.
Salah satu faktor yang membawa pengaruh terhadap sikap remaja masa kini yaitu pengaruh orang lain. Pengaruh orang lain ini biasanya adalah seseorang yang terkenal atau seseorang yang penting. Salah satu contohnya yaitu seorang artis yang biasa tampil di televisi.
Apabila seseorang tersebut mencontohkan sikap positif dalam hidupnya, maka hal tersebut adalah hal yang baik dan positif. Namun, permasalahan yang ada sekarang yaitu banyaknya artis yang mengajarkan dan mencontohkan hal-hal yang kurang baik.
Salah satu contoh yang bisa kita lihat yaitu banyaknya kasus-kasus narkoba yang dilakukan oleh artis-artis papan atas seperti Raffi Ahmad, Tessy Srimulat, dan artis lainnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut secara tidak langsung ditiru oleh remaja yang rasa penasarannya sangat besar.
Faktor media massa seperti TV dan Radio pun menjadi penyumbang terbesar yang membawa pengaruh terhadap sikap remaja masa kini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar tayangan televisi yang ada di Indonesia mempunyai kualitas yang kurang baik, bahkan buruk.
Media adalah wadah yang menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Media pun seringkali berperan dalam mengembangkan kebudayaan, juga tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
Ada baiknya kita sebagai remaja dan masyarakat harus bisa memilah mana informasi yang harus diserap mana yang harus dibuang. Di era informasi ini, sangat penting bagi kita untuk mengendalikan diri kita sendiri, agar sikap dan perilaku kita tetap positif dan baik untuk masyarakat. Jangan sampai kita terbawa-bawa oleh hal-hal negatif yang dibawa oleh media maupun orang lain.
https://galihpratama.net/sikap-dan-perilaku-remaja-di-era-globalisasi/
Fenomena Seks Bebas di Kalangan Remaja
π« Bicara soal remaja tidak akan pernah lepas dari percintaan remaja. Tentu semua remaja telah mengalaminya .Hampir seluruh remaja di Dunia termasuk Indonesia mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan remaja itu sendiri yang biasa kita sebut sebagai “Pacaran”.
- Perlunya kerja sama antara orang tua dengan pihak sekolah mengenai pendidikan moral anak mereka. Hal ini tentunya akan membuat pihak sekolah lebih ketat dalam urusan moral para siswa nya.
- Keaktifan dari para guru BP/BK/P2S untuk mencegah dan mengajarkan moral dan etika kepada para siswa nya dan memberi peringatan yang keras kepada mereka agar tidak mengulangi nya lagi.
- Perlu adanya kedekatan para orangtua dengan anak-anak mereka sehingga terjalin suatu hubungan yang baik di mana anak-anak mereka dapat menuruti nasihat serta perintah dan jujur dengan orangtua mereka sendiri.
- Perlunya pengawasan atas media yang di tonton oleh para orangtua terhadap anak mereka. Hal ini sangat penting karena media saat ini merupakan acuan para remaja (anak-anak mereka) dalam mencari trend.
- Untuk para remaja, kalian harus lebih selektif dalam mencari kelompok bermain yang baik. Bukan berarti hal ini akan membuat pergaulan kalian menjadi kaku, namun hal ini dapat membuat kalian jauh dari pergaulan yang salah. Ekspresi kan kecintaan kalian dengan sang ‘pacar’ dalam hal yang positif. Bisa dalam bentuk inspirasi dalam membuat novel atau cerpen dan lagu. Hal ini akan membuat kalian lebih produktif dan itu tentu bermanfaat bagi kekreatifan kalian.
TAWURAN ANTAR PELAJAR MASALAH DAN PENYEBABNYA

Kalau kita baca uraian diatas jelas sangat
tidak sinkron antara tujuan UU no.20 tahun 2003 tetang system pendidikan dengan
kenyataan yang ada dilapangan, bahkan jauh sebelum UU no. 20 tahun 2003 lahir,
tauran pelajar sudah terjadi,, pertanyaannya adalah apakah dengan lahirnya UU
no. 20 tahun 2003 bisa mengatasi tauran
pelajar ? atau mungkin ada masalah lain ?.
Bagaimana
mengatasi tauran yang hampir tiap hari terjadi di Jakarta ? langkah-langkah apa saja yang bisa
dilakukan agar tauran bisa diatasi
1. 1. Pengertian Tawuran
Dalam
kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang
meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar.
Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh
sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang
sedang belajar
Secara
psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai
salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja,
dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu
situasional dan sistematik.
a.
Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan”
mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan
untuk memecahkan masalah secara cepat.
b.
Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di
dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan
kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai
anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja
akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah
para remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan
yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.
2. Teori Belajar social
Teori belajar sosial lebih
memperhatikan faktor tarikan dari luar. Bandura (dalam
Sarwono, 2002) mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari- hari pun perilaku agresif
dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa.
Sarwono, 2002) mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari- hari pun perilaku agresif
dipelajari dari model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa.
3 . Teori Kualitas Lingkungan
Strategi yang dipilih
seseorang untuk stimulus mana yang diprioritaskan atau
diabaikan pada suatu waktu tertentu akan menentukan reaksi positif atau negatif terhadap lingkungan. Berikutnya adalah teori Kualitas Lingkungan yang salah satunya meliputi kualitas fisik (ambient condition). Berbicara mengenai kualitas fisik (ambient condition), Rahardjani dan Ancok (dalam Prabowo, 1998) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna. Menurut Ancok (dalam Prabowo, 1998), keadaan bising dan temperatur yang tinggi akan mempengaruhi emosi para penghuni. Sedangkan menurut Holahan (dalam Prabowo, 1998) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efef yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
diabaikan pada suatu waktu tertentu akan menentukan reaksi positif atau negatif terhadap lingkungan. Berikutnya adalah teori Kualitas Lingkungan yang salah satunya meliputi kualitas fisik (ambient condition). Berbicara mengenai kualitas fisik (ambient condition), Rahardjani dan Ancok (dalam Prabowo, 1998) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna. Menurut Ancok (dalam Prabowo, 1998), keadaan bising dan temperatur yang tinggi akan mempengaruhi emosi para penghuni. Sedangkan menurut Holahan (dalam Prabowo, 1998) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efef yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
Tawuran
pelajar merupakan salah satu bentuk perilaku negatif yang sangat marak terjadi
dikota -kota besar, misalnya Jakarta. Permasalahan remeh dapat menyulut
pertengkaran individual yang berlanjut menjadi perkelaian masal dan tak jarang
melibatkan penggunaan senjata tajam atau bahkan senjata api. Banyak korban yang
berjatuhan, baik karena luka ringan, luka berat, bakan tidak jarang terjadi
kematian. Tawuran ini juga membawa dendam berkepanjangan bagi para pelaku yang
terlibat didalamnya dan sering berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Hal
ini tentunya merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Generasi yang
diharapkan mampu membawa perubahan bangsa kearah yang lebih baik ternyata jauh
dari harapan. Kondisi ini juga dapat membawa dampak buruk bagi masa depan
bangsa. Lickona menyebutkan beberapa tanda dari perilaku manusia yang
menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa antara lain meningkatnya kekerasan
dikalangan remaja, pengaruh kelompok sebaya terhadap tindakan kekerasan, dan
semakin kaburnya pedoman moral.
1. Faktor- faktor yang menyebabkan
tawuran pelajar
Berikut
ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a.
Faktor Internal
Faktor
internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui
proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan
disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan
perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang
kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman
pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama
semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih
tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu
apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para
remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi,
tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya.
Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah
orang-orang sekelilingnya. Di
antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus
dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikuti perkembangan
zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Dalam
studinya tentang kekerasan, Foucault, seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa
kekerasan adalah buah dari simbolisasi perlawanan akan bentukan emosi yang
menekan manusia secara eksistensial. Disisi yang lain, Eric Fromm menyatakan
bahwa kekerasan adalah wujud dari ketakutan dan keterancaman. Dari dua teori
diatas, kita tentu memahami mengapa pelajar melakukan kekerasan. Sebagai
manusia remaja, pelajar, dalam pengalaman keseharian mereka, merasakan bentukan
hegemoni dari orang yang lebih dewasa (orang tua, guru dan sekolah itu sendiri)
melalui aturan normative yang membelit kebebasan mereka. Mereka lebih sering
dituntut untuk memahami segala bentuk tatanan yang sifatnya baru bagi mereka
daripada diberikan kebebasan untuk berpikir kritis atas tatanan-tatanan
tersebut. Mereka merasakan sebuah keterancaman eksistensial dimana keberadaan
mereka tidak terlalu diakui sebagai selayaknya manusia yang setara. Mereka
adalah gudang kesalahan yang setiap hari selalu diposisikan sebagai sosok yang
tidak pernah benar di mata orang dewasa.
Mereka
berkelompok karena mereka merasakan sebuah perasaan senasib. Perasaan senasib
tersebut menimbulkan sebuah solidaritas masal yang sifatnya fanatis dan
simbolik. Mereka yang tidak bisa memenuhi tuntutan solidaritas tidak akan terekrut
dalam kelompok-kelompok yang ada. Disinilah mereka harus menunjukan jati diri
eksistensi mereka. Minuman keras, narkoba, dan perkelahian bukan sekedar
eksperimentasi mereka sebagai remaja melainkan juga menjadi semacam metode
simbolik untuk bisa diterima oleh kelompok-kelompok yang ada. Tanpa
kelompok-kelompok itu, mereka akan mengalami perasaan kesepian yang mendalam
karena teralienasi baik oleh kelompok manusia dewasa maupun seusia mereka.
b.
Faktor Eksternal
Faktor
eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :
1.
Faktor Keluarga
Keluarga
adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang
anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah
ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena
inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan
keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan yang dilakukan oleh
pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak
menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya
psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
Menurut
Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa
salah satu penyebab kenakalan
remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang
baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan
hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja
dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi
anak (hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan
anaknya untuk selalu berprilaku baik.
2.
Faktor Sekolah
Dalam beberapa diskusi atau tulisan yang
dimuat di media masa, beberapa ahli atau penggiat pendidikan sering
mengopinikan adanya kebutuhan akan kegiatan-kegiatan positif yang mampu
mewadahi kreativitas dan dinamisasi kehidupan remaja dalam rangka mengurangi
angka terjadinya tawuran antar siswa baik di tingkat SMP atau SMU.
Kegiatan-kegiatan positif bisa dibentukan dalam aktivitas persahabatan antar
sekolah yang lebih menitikberatkan kepada persoalan-persoalan ilmiah. Dari
kegiatan tersebut akan muncul sebuah keakraban universal diantara mereka para
pelajar.
Sekolah
tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai secara akademik namun juga
pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa
mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah
untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran
yang bermutu. Contohnya disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru
yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru
tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru
oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang
pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.
Menjadi guru lebih mudah ketimbang
menjadi sahabat mereka. Pelajar membutuhkan perasaan diterima dan diakui
sebagai manusia yang berkedudukan setara dengan siapapun juga. Mereka muak
untuk dipaksa memahami tanpa memiliki kesempatan untuk dipahami. Perilaku
mereka adalah sebuah kompensasi atas perasaan teralienasi dalam dunia belajar
mengajar. Satu satu solusi jangka panjang yang mungkin dilakukan adalah merubah
paradigma guru. Guru sebaiknya memahami mereka sebagai remaja yang lahir dari
kultur keluarga, masyarakat dan pribadi yang berbeda. Kultur remaja memiliki
belief dan values sendiri yang tidak bisa ditekan untuk menerima kultur dewasa yang
universal. Menekan mereka hanya akan membentuk bangunan hegemoni kepada mereka
yang terkompensasi dalam perilaku destruktif mereka sebagai sebuah simbol
perlawanan eksistensial demi mendapatkan pengakuan
3.
Faktor Lingkungan
Lingkungan
rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja
yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut
ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola
kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak
adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar
disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
Dosen Psikologi Universitas
Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas, bulan lalu,
mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selama puluhan
tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku
kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah
yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran lebih sering terjadi di
jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama
dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut,
tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi
berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation
of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta”, tahun
1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yang
terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus
umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh
sekolah musuh bebuyutan mereka (Kompas, 26/11).
2.
Hal yang menjadi pemicu tawuran
Fenomena
tawuran yang terjadi di Indonesia beberapa pekan terakhir membuka mata kita
kembali akan maraknya kekerasan dalam pergaulan sosial remaja pelajar Indonesia
yang lama sempat tengelam ditengah hiruk pikuk carut marut pendidikan nasional.
Bila dicermati, respon masyarakat awam maupun kalangan pendidikan terhadap
fenomena tawuran selalu saja mengkambinghitamkan problem-problem sosial di luar
sekolah yang mempengaruhi pembentukan perilaku negatif pelajar. Disinilah letak
penyimpangan intepretasi sosial yang terkadang mewujud kepada penanganan yang
selama ini terbukti tidak efektif mengurangi angka kejadian tawuran pelajar di
Indonesia. Seorang Psikolog tersohor, Maslow, mengkategorikan beberapa motif
perilaku kepada bangunan piramida motivasi manusia. Dalam teori motivasinya,
Maslow menyebutkan bahwa salah satu motivasi tindakan manusia adalah untuk
memperoleh pengakuan eksistensial dari sesamanya. Disinilah titik penting yang
sering terlepas dari kesadaran kritis kita dalam menyoroti fenomena tawuran
antar pelajar selama ini.
Pelajar
adalah manusia yang hidup dalam situasi transisi antara dunia anak menuju
dewasa. Disinilah ruang dimana seorang manusia remaja mulai menyadari
kebutuhan-kebutuhan sosialnya untuk diterima sekaligus diakui oleh komunitas
masyarakat disekitarnya. Ruang baru yang mereka huni tersebut terkadang
menuntut hadirnya kultur solidaritas yang dalam beberapa kasus, bukan tidak
mungkin, menyimpang menjadi sebuah sikap fanatisme dan vandalisme. Inilah
mengapa kemunculan fenomena tawuran selalu diwarnai dengan kehadiran
kelompok-kelompok vandalistik (baca: gank) yang biasanya mengundang
perasaan-perasaan fanatisme berlebih dari setiap anggotanya.
Banyak
sekali alasan yang bisa menjadikan tawuran antar-pelajar terjadi. Pelajar
sering kali tawuran hanya karena masalah sepele, seperti saling ejek,
berpapasan di bus, pentas seni, atau pertandingan sepak bola. Bahkan, yang baru
terjadi awal bulan ini, tawuran dipicu saling ejek di Facebook, yang kemudian
sampai menyebabkan nyawa seorang pelajar melayang. Padahal, jejaring sosial,
kan, hanya untuk having fun, bukan untuk menjadi pemicu tawuran.
Tak
jarang disebabkan oleh hanya saling menatap antar sesama pelajar yang berbeda
sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran. Dan
masih banyak lagi sebab-sebab lainnya. Selain
alasan-alasan yang spontan, ada juga tawuran antar-pelajar yang sudah menjadi
tradisi.
Dari jajak pendapat Kompas pada bulan
Oktober, dengan responden di 12 kota di Indonesia, diketahui sebanyak 17,5
persen responden mengakui bahwa saat dia bersekolah SMA, sekolahnya pernah
terlibat tawuran antar-pelajar. Tidak sedikit pula responden atau keluarga
responden yang mengaku pada masa bersekolah terlibat tawuran atau perkelahian
massal pelajar. Jumlahnya mencapai 6,6 persen atau sekitar 29 responden.
Di
antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus
dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikuti
perkembangan zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Dosen
Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang
Kompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah
terjadi selama puluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran
merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat
pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran
lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali
terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering
berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari
cara untuk tetap tawuran.
Dalam
penelitian untuk disertasi berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A
Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High
School Students in Jakarta”, tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya
fenomena barisan siswa (basis) yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka
bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk
berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan
mereka (Kompas, 26/11).
3.
Dampak karena tawuran pelajar
a. Kerugian
fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai
kematian
b. Masyarakat
sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang
tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
c. Terganggunya proses belajar
mengajar
d. Menurunnya moralitas para
pelajar
e. Hilangnya perasaan peka,
toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai
4.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar
Untuk
menghilangkan tawuran antar-pelajar yang sudah mengakar, tentu dibutuhkan usaha
keras. Banyak usulan yang dilontarkan untuk mengurangi tawuran antar-pelajar.
Beberapa di antaranya memindahkan sekolah, memotong generasi di sekolah, atau
memotong mata rantai tradisi tawuran.
Salah
satu upaya mengurangi tawuran yang juga pernah dilakukan adalah memindahkan
letak sekolah karena diduga lingkungan sekolah yang terlalu ramai di tengah
kota mengakibatkan tekanan mental lebih berat bagi siswa. Pada periode 1980-an,
SMA 7 Gambir, Jakarta, terlibat konflik dengan STM Boedi Oetomo Pejambon.
Kemudian, pada awal tahun 1990-an, SMA 7 dipindahkan ke wilayah Karet
Pejompongan untuk memutus tawuran dengan STM Boedi Oetomo.
Ketua
KPAI Maria Ulfah Anshor mengungkapkan, tradisi tawuran bisa diputus dengan
menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak di rumah. ”Keluarga mempunyai peranan
penting untuk menanamkan nilai menghargai perbedaan, yang nyata dalam kehidupan
dan tidak bisa dihindari. Nah, bagaimana menghargai perbedaan itu menjadi
sesuatu yang positif,” kata Maria Ulfah.
Untuk
itulah, ketika melakukan mediasi antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta, KPAI juga
mengundang pihak orangtua. ”Sistem pendidikan kita seharusnya juga ikut
mendukung itu. Dulu ada pelajaran budi pekerti, tetapi kurikulum
menghilangkannya dengan alasan sudah terintegrasi dengan pelajaran lain.
Padahal, kenyataannya, nilai-nilai dari budi pekerti itu memang tidak
diajarkan, hilang begitu saja,” ujarnya.
Maria
Ulfah juga mengusulkan memotong mata rantai pemicu tawuran. Terkadang kita
tidak tahu apa yang menjadi penyebab tawuran, yang kemudian mengakar sampai ke
generasi berikutnya. Nah, kata Maria Ulfah, mengapa tidak mengubah paradigma
tawuran, permusuhan antar-pelajar tak perlu disikapi dengan perlawanan.
”Harus
diputus tradisi senior yang memanas-manasi yuniornya supaya terlibat tawuran.
Ada baiknya pula menghidupkan kembali pertandingan persahabatan antarsekolah.
Kalau zaman dulu pertandingan olahraga bisa mempererat hubungan antarpelajar,
kenapa sekarang tidak?” ungkapnya. Harapan KPAI tentu menjadi harapan kita
semua.(suSIE berindra)
Cara
mengatasi tauran, sekolah juga bisa melakukan dengan cara:
a. Memberikan pendidikan moral
untuk para pelajar
b. Menghadirkan seorang figur yang baik
untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman
sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
c. Memberikan
perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri
d. Memfasilitasi
para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat diwaktu luangnya. Contohnya : membentuk ikatan remaja
masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan
setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya.
e. Bahkan antara tahun 2002 sampai tahun 2005 tauran mulai
berkurang karena pada saat itu Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberikan
instruksi kepada seluruh sekolah khususnya SLTA
agar tiap-tiap sekolah siswanya
mengikuti kegiatan kesiswaan dengan system mentoring.
Kartini
kartono pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja,
diantaranya :
1. Banyak mawas
diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap
kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
2. Memberikan
kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
3. Memberikan
bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan
perkembangan bakat dan potensi remaja

http://den-haryprasetyo.blogspot.co.id/2013/11/tawuran-antar-pelajar-masalah-dan_7044.html
Jumat, 01 Desember 2017
karakter anak muda zaman sekarang
Fenomena anak muda atau remaja zaman sekarang menunjukkan
potret kehidupan mereka kini. Munculnya para anak muda kontroversial
yang justru jadi panutan generasi muda salah satunya. Mulai dari cara
berbicara sampai penampilan yang dirasa jauh berbeda dengan anak muda
zaman dulu. Tak heran jika akhirnya banyak gaya anak muda yang jadi
bahan perbincangan masyarakat.
Nah, fenomena ini dikemas dengan lebih menarik melalui serangkaian gambar oleh seorang ilustrator dan diunggah secara teratur di media sosial. Lewat sebuah akun dengan nama @kekomukan, seorang pelajar perempuan berusia 15 tahun membuat ilustrasi yang menceritakan fenomena anak muda zaman sekarang.
1. Tipe penampilan cewek kekinian.
2. Banyak cowok yang mulai suka dandan
3. Anaknya pas dikasi unjuk foto orang tuanya bilang "RELATIONSHIP GOALS"
4. Anak kebawa zaman,
5.gaya foto anak zaman kekinian
6. Biar terkenal pokoknya.
7. Cabe-cabean.
8. Saat celana sobek-sobek jadi tren.
9. Katanya sih pelajar.
10. Kalian semua suci aku penuh dosa.
11. Cabe-cabean lagi.
12. Gaya anak zaman sekarang.
13. Girls be like.
14. Relationship goals, katanya.
15. Hijaber kekinian.
https://www.brilio.net/kepribadian/15-ilustrasi-karakter-anak-muda-zaman-sekarang-dilihat-dari-penampilan-1611047.html#
Nah, fenomena ini dikemas dengan lebih menarik melalui serangkaian gambar oleh seorang ilustrator dan diunggah secara teratur di media sosial. Lewat sebuah akun dengan nama @kekomukan, seorang pelajar perempuan berusia 15 tahun membuat ilustrasi yang menceritakan fenomena anak muda zaman sekarang.
1. Tipe penampilan cewek kekinian.

2. Banyak cowok yang mulai suka dandan

3. Anaknya pas dikasi unjuk foto orang tuanya bilang "RELATIONSHIP GOALS"

4. Anak kebawa zaman,

5.gaya foto anak zaman kekinian

6. Biar terkenal pokoknya.

7. Cabe-cabean.

8. Saat celana sobek-sobek jadi tren.

9. Katanya sih pelajar.

10. Kalian semua suci aku penuh dosa.

11. Cabe-cabean lagi.

12. Gaya anak zaman sekarang.

13. Girls be like.

14. Relationship goals, katanya.

15. Hijaber kekinian.
Geng motor
π¦π¦Geng motor adalah kumpulan orang-orang pecinta
motor yang gemar kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai.
Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Club Motor biasanya
mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan perangkat
organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter(kelompok
pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio.
Ada jugaBrotherhood kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau
soal aksi jalanan, semuanya sama saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja
jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh pengendara lain.
Sekarang geng-geng motor sudah berada dalam
taraf berbahaya, tak segan mereka tawuran dan tak merasa berdosa para geng
tersebut membunuh. Perbedaan mencolok dari geng motor dan club motor adalah :
1. Kebanyakan
anggota geng motor tidak memakai perangkat safety seperti helm, sepatu dan
jaket.
2. Membawa
senjata tajam yang dibuat sendiri atau sudah dari pabriknya seperti samurai,
badik hingga bom Molotov.
3. Biasanya
hanya muncul pada malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta
berisik.
4. Jauh dari
kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal
atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara membunuh masal.
5. Anggotanya
lebih banyak kepada kaum lelaki yang sangar, tukang mabok, penjudi dan hobi
membunuh, sekalipuntidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut dan wanita
yang mengikuti geng motor biasanya hanya dijadikan budak nafsu lelaki masal.
6. Motor yang
mereka gunakan tidak memiliki spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting
untuk mereka adalah kencang dan mampu melibas orang yang lewat.
7. Visi dan
misi mereka jelas, hanya membuat kekacauan dan ingin menjadi geng terseram
diantara geng motor lainnya hingga sering terjadi tawuran diatas motor.
8. Tidak
terdaftar di kepolisian atau masyarakat setempat.
9. Kalau
nongkrong, lebih suka ditempat yang jauh dari kata terang. Lebih memilih tempat
sepi, gelap dan berbau busuk.
1 Kalau pelantikan anak baru
biasanya bermain fisik, diperintah untuk berkelahi dan minum minuman keras
samapi muntah.
Namun sekarang perlu diwaspadai karena ada geng
motor yang berkedok club motor. Berpakaian rapi, safety dan penuh perlengkapan
berkendaraan namun arogan, anarkis dan egois kalau dijalan serta tak segan
mereka membuat rusuh bila merasa diganggu. Selama AD/ART mereka jelas dan
terdaftar dipihak kepolisian, club motor tidak bakal berubah menjadi geng
motor.
π€π€ Faktor Penyebab Remaja
Terlibat dalam Geng Motor
Tentunya sangat banyak faktor penyebab remaja
terjerumus ke dalam kawanan geng motor. Namun, salah satu penyebab utama
mengapa remaja memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya perhatian
dan kasih sayang orang tua. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu sibuknya
kedua orang tua mereka dengan pekerjaan, sehingga perhatian dan kasih sayang
kepada anaknya hanya diekspresikan dalam bentuk materi saja. Padahal materi
tidak dapat mengganti dahaga mereka akan kasih sayang dan perhatian orang tua.
Faktor lain yang juga ikut berperan menjadi
alasan mengapa remaja saat ini memilih bergabung dengan geng motor adalah
kurangnya sarana atau media bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara
positif.
Remaja pada umumnya, lebih suka memacu kendaraan
dengan kecepatan tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang legal sangat
jarang digelar.Padahal, ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain
dapat memotivasi untuk berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena
sarana aktualisasi diri yang positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka
melampiaskannya dengan aksi ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi
mencelakakan dirinya dan orang lain .
3.3 π§π§ Terbentuknya Geng Motor
Mulanya kumpul-kumpul sesama pecinta motor,
kemudian berubah jadi geng yang beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang. Di
jalanan, mereka membentuk gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman
demi menancapkan identitas kelompok. Ngetrack, kebut-kebutan, dan tawuran
adalah upaya dalam pencarian identitas mereka.Selama ini banyak anggota
geng motor itu dari kalangan anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan
Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menggunakan berbagai jenis motor. Mereka
berkeliaran di malam hari sekitar pukul 23.00 sampai 03.00, dan melakukan
berbagai keonaran, penganiayaan dan kejahatan lainnya, bahkan sampai membunuh.
Geng motor merupakan wadah yang mampu memberikan
gejala watak keberingasan anak muda. Perkembangannya, tak lepas dari trend
mode yang sedang berlangsung saat itu.Aksi brutal itu perlu
diredam.Mulanya berbuat jahat dari yang ringan seperti bolos sekolah, lama-lama
mencuri, merampok dan membunuh. Lumrahnya jika sudah berani jahat ada indikasi
mereka mengkonsumsi narkoba.
Begitu pun membenci dan melawan orang tua.Mereka
sadar karena masih sekolah sumber keuangan ada di orang tua.Oleh karenanya,
jika orang tua tak memberi uang cukup, mereka terpaksa membenci dan mengancam
orangtuanya sendiri. Sedang aksi kejahatan berupa perampasan dan perampokan,
merupakan jalan lain untuk mendapatkan penghasilan.
Salah satu sebab kebrutalan adalah selain dekat
dengan minuman keras, anggota geng motor juga akrab dengan obat-obatatan
terlarang. Bahkan, ada satu geng motor yang ketua dan anggotanya merupakan pengedar
dan pengguna obat-obatan.
Mereka ingin diakui keberadaannya.Tapi ada juga
yang asal mulanya hanya karena senang kebut-kebutan.Penyebab tawuran antar geng
motor meliputi banyak hal yang bisa menjadi pemicunya. Mulai dari masalah
rebutan wanita, daerah kekuasaan, hingga wilayah pemasaran obat-obatan. Seperti
disebutkan tadi, tidak sedikit anggota geng motor yang terlibat dalam
perdagangan narkoba.
Banyak anggota geng motor yang tak begitu takut
dengan aparat. Sebab tak sedikit pula anggota geng motor yang punya beking kuat
di polisi sendiri. Jumlah anggota geng di Indonesia kini semakin banyak. Sebab
jumlah motor semakin banyak serta kian teraturnya organisasi geng motor. Di
tiap wilayah mereka selalu mempunyai pemimpin. Kalau motor hilang dirampas geng
musuh atau polisi, mereka tidakakan rugi. Karena rata-rata mereka memiliki
motor itu dari hasil menjambret atau meminjam motor, Anggota geng sebagian
besar adalah remaja tanggung atau masih duduk di bangku SMU. Mereka belum
mempunyai penghasilan sendiri.Karena itulah mereka sering melakukan kejahatan
agar bisa membeli obat-obatan tersebut.
3.4 ππ Senjata yang
Digunakan dalam Aksi Kejahatan Geng Motor
Untuk mendukung aksi geng motor, Samurai, jenis
golok berukuran panjang yang biasa digunakan oleh kelompok Ninja di Jepang,
menjadi senjata khas mereka.Tidak hanya saat tawuran, senjata ini biasa
dipamerkan pada saat konvoi. Samurai dilepas dan ujung runcingnya digesekkan ke
jalanan hingga memercikan cahaya api.
Senjata lainnya yang biasa digunakan yakni
golok, stik soft ball, bom molotof bahkan senjata api jenis pistol. Tidak tahu
pasti siapa yang menggunakan senjata api, namun dari penuturan sebagian anggota
geng, semuanya pernah melihat teman satu gengnya menggenggam pistol atau
malahan diancam dengan pistol.
3.5 π£π£Permasalahan
yang Ditimbulkan oleh Geng Motor
Tindakan yang dilakukan geng motor belakangan
ini kian meresahkan warga. Geng motor kini memang menjadi salah satu perhatian
utama pihak berwenang karena tindakan mereka kian berani. Selain meminta korban
sesama anggota geng, tindakan mereka juga mengambil korban masyarakat biasa.Tak
salah jika masyarakat menyebut geng-geng motor tersebut tidak berbeda dengan
perampok atau pencuri.Tindak kejahatan yang dilakukan sebagian besar perampasan
barang berharga milik korban, seperti uang, HP, dompet, hingga motor.
Dalam aksinya, mereka tak segan-segan menganiaya
korban. Jika geng motor tersebut tidak diantispasi sejak dini, dikhawatirkan
kelompok-kelompok tersebut bisa kian besar menjadi sebuah jaringan kriminal
terorganisisasi. Indikasi itu mulai muncul dengan tindak penganiayaan yang
dilakukan oleh anggota geng motor akir-akir ini. Kalau geng motor brutal itu
tidak segera dibubarkan maka akan sangat membahayakan karena terdapat
solidaritas sempit yang telah didoktrinkan kepada setiap anggota geng motor
tersebut, sehingga mengarah pada tindakan kriminal.
3.6 π«π« Tanggapan Masyarakat
Terhadap Aksi Kebrutalan Geng Motor
Keberadaan Geng Motor yang sudah mengganggu ketentraman
masyarakat yang juga sering terlibat tindak pidana kriminal agar segera
dibubarkan dan ditumpas. Terkait masalah Geng Motor yang sudah meresahkan
masyarakat itu, Menteri Pemuda dan Olahraga meminta pihak yang berwenang agar
menumpas dan membubarkan Geng Motor. Para pelaku kejahatan yang berhimpun dalam
Geng tersebut, harus ditindak sesuai hukum.Sedangkan bagi anggota yang tidak
terlibat pelanggaran hukum, perlu segera disadarkan dan ditangani secara
persuasif.
Gejala sosial ini tidak boleh dibiarkan.Harus
ditangani secara simultan, antara penyadaran secara persuasif dan tindakan
hukum. Jika dibiarkan, dikhawatirkan akansemakin meresahkan masyarakat. Karena
dalam praktek perekrutannya ada semacam baiat bagi anggota baru dan ancaman
hukuman.Seperti dipotong anggota badannya, bagi anggota yang keluar dan buka
mulut kepada orang tua atau kepada pihak berwajib.
3.7 π²π² Upaya yang Dilakukan
UntukMemerangi Teror Geng Motor
Salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan
mereka secara efektif adalah peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua
mereka sendiri. Solusi ini akan lebih efektif, mengingat penyebab utama mereka
memilih geng motor sebagai bagian kehidupannya adalah karena mereka merasa jauh
dari kasih sayang orang tua. Dalam memberikan terapi kepada anaknya yang sudah
terlanjur terlibat anggota geng motor, orang tua bisa bekerja sama dengan
psikolog yang mereka percayai. Sehingga secara pasikologis sedikit demi sedikit
anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orang tua.
Sebagai upaya preventif terhadap peningkatan
jumlah anggota geng motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman
nilai-nilai agama sejak dini. terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan
begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh
dilakukan. Sehingga pada saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat
mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang harus dipatuhi.
Selain itu pihak polisi juga melakukan razia
motor-motor yang tidak memiliki surat-surat dan tas-tas sekolah yang dicurigai
membawa senjata tajam ke seluruh sekolah, dengan dibantu para guru dan kepala
sekolah.
Tembak mati atau tembak melumpuhkan, merupakan
stimulus jitu untuk memberikan efek jera pada meraka.Namun, aksi polisi
mengarah kepenembakan itu belum bias terlaksana. Geng motor yang diproses di
pengadilan tak akan memberikan efek jera. Ketika pelaku divonis bebas,
rekan-rekannya menyambut dan mengelu-elukan. Jika anggota geng motor ditangkap
dan diadili maka anggota itu menjadi pahlawan.
http://delavonka.blogspot.co.id/2014/11/masalah-sosial-geng-motor.html
http://delavonka.blogspot.co.id/2014/11/masalah-sosial-geng-motor.html





